Berkat Foto, Spesies Serangga Baru dari Hutan di Utara Kalimantan Teridentifikasi

Uniknya, sementara spesies betina berwarna merah atau jambon, spesies jantannya berwarna hijau. Tak hanya itu, keduanya juga sangat menyerupai dedaunan.

Katydid betina yang baru ditemukan ini menyerupai daun muda berwarna merah di habitat aslinya di utara Kalimantan. (Peter Kirk via National Geographic)

 

Sekilas, mungkin Anda mengira bahwa gambar di atas merupakan sekumpulan dedaunan berwarna merah dan hijau. Tapi coba perhatikan dengan lebih seksama: gambar tersebut menampilkan seekor serangga yang sedang hinggap di dedaunan berwarna merah.

Serangga tersebut merupakan spesies baru katydid betina yang ditemukan di hutan hujan Kalimantan bagian Malaysia. Uniknya, sementara spesies betina berwarna merah atau jambon, spesies jantannya berwarna hijau. Tak hanya itu, keduanya juga sangat menyerupai dedaunan, dengan urat khas dan lobus seperti daun pada kaki mereka.

Serangga ini juga terbilang istimewa, karena salah satu dari mereka diidentifikasi hanya melalui foto. Pada 2013 silam, seorang rekan menunjukkan hasil foto katydid berwarna spektakuler kepada George Beccaloni, ahli hewan di Natural History Museum London. Karena tak berhasil mengidentifikasi serangga itu, Beccaloni kemudian mengirimkan foto tersebut kepada Sigfrid Ingrisch, ahli serangga asia.

“Dia enggan menyebutkan dan menjelaskan karena mendeskripsikan spesies baru hanya berdasarkan pada foto bukanlah tindakan yang baik,” kata Beccaloni.

Ia menambahkan, “Sering kali, Anda perlu melihat karakteristik mikroskopis yang tidak muncul di foto untuk membedakan spesies.”

Tetapi kasus ini merupakan pengecualian. Beberapa ilmuwan sangat yakin untuk menamai serangga ini sebagai spesies baru: Eulophophyllum kirki, karena urat-urat pada sayap serangga itu sangat terlihat jelas dan berbeda dengan spesies lain yang telah diidentifikasi. Urat-urat sayap merupakan bagian yang biasa digunakan sebagai pembeda di kalangan spesies katydid.

Kamuflase warna

Tim ilmuwan yang sama juga menguji spesimen tongeret yang dikumpulkan saat ekspedisi ke Kalimantan pada 1993 silam dan disimpan sebagai koleksi museum Jerman. Mereka memutuskan bahwa spesimen ini, dengan foto-foto yang mereka temukan di Internet, mewakili spesies baru kedua tongeret E. lobulatum.

 

Katydid jantan mengembangkan kamuflase hijau agar mereka dapat bersembunyi di lebih banyak tempat saat mereka berkeliaran untuk mencari betina. (Peter Kirk via National Geographic)

Dalam studi terbaru dalam Journal of Orthoptera Research, Beccaloni dan rekan-rekannya mengklasifikasi kedua serangga tersebut dalam genus Eulophophylum, yang sebelumnya diketahui dari seekor katydid betina yang ditemukan di bagian utara Kalimantan hampir 100 tahun lalu.

Kedua spesies ini berbeda dengan spesimen katydid betina berwarna jambon yang sebelumnya diketahui. Perbedaan tersebut tampak pada urat-urat sayap dan kehadiran perkembangan seperti daun pada kaki belakang mereka.

Kemungkinan alasan tonggoret ini berbeda warna karena mereka memiliki alasan yang berbeda pula untuk kamuflase.

“Spesies katydid betina yang baru ditemukan ini hampir pasti bersembunyi dan memakan daun muda berwarna merah,” ungkap Beccaloni.

“Mungkin katydid jantan mengembangkan kamuflase hijau agar mereka dapat bersembunyi di lebih banyak tempat saat mereka berkeliaran untuk mencari betina,” tambahnya.

Kontra

Beberapa ahli yang lain tidak begitu yakin untuk menentukan spesies baru hanya berdasarkan foto.

“Anda bisa mengidentifikasi spesies berdasarkan foto, tetapi Anda tidak bisa mendeskripsikan dan menamai spesies hanya berdasar foto. Anda harus memegangnya secara langsung,” kata David Rentz, ilmuwan mantan kepala penelitian di Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation di Canberra, Australia.

Ahli serangga independen, Rob Felix, sepakat dengan Rentz, “Deskripsi spesies harus selalu dilakukan berdasar referensi yang ada di tangan Anda dan diuji ulang.”

Tetapi ia menambahkan, “Para penulis studi memiliki alasan yang sangat bagus untuk mendeskripsikan spesies hanya berdasarkan foto. Dengan mendeskripsikan spesies itu berdasar foto pada saat ini, mereka berharap untuk menghasilkan publisitas, sehingga pihak berwenang menyadari pentingnya mengumpulkan beberapa spesimen.

“Karena habitat katydid baru ini di Kalimantan berada dalam ancaman akibat penebangan untuk perkebunan kelapa sawit dan kayu, pengetahuan tentang penghuni kawasan ini mungkin dapat membantu upaya konservasi,” pungkas Felix.

(Lutfi Fauziah. Sumber: Mary Bates/National Geographic)

 

Sumber : www.nationalgeographic.co.id