Selamat sore, warga tropis!
#NgobrolSore
27 November 2015
Hutan untuk Kehidupan
#NgobrolSore Bulan ini dalam rangka hari menanam pohon yang jatuh pada tanggal 28 November 2015. Maka kami mengambil tema mengenai ‘Hutan untuk Kehidupan’.
Narasumber kali ini dari Taman Buru Masigit Kareumbi dan dari Komunitas1000 Kebun. TBMK diwakili Oleh Kang Sandiyakala Ning Tyas yang akrab disapa Eco dan 1000 Kebun diwakili oleh Kang Raden Galih Raditya. Obrolan dibuka oleh Moderator, kang Aditya Prabowo . Menjelasakan tentang peran Hutan Indonesia yang memiliki peringkat ke 3 Dunia dalam menyumbang Oksigen untuk Dunia. Tapi dengan banyak kejadian di Indonesia, ternyata luas Hutan kita sudah banyak berkurang. Banyak faktor yang menyebabkan Hutan kita berkurang. Salah satunya pengalihan fungsi Hutan.
Narasumber pertama, Kang Eco dari TBMK memulai obrolan dengan menjelaskan mengenai TBMK. Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi, merupakan salah satu Taman Buru di Indonesia. TBMK merupakan Taman Buru satu-satunya di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Fungsi dari TBMK merupakan area yang difungsikan untuk berburu secara Legal. Karena satwa buruan memang dilestarikan untuk dijadikan buruan. Satwa buruan yang boleh diburu hanya hewan-hewan yang sudah tidak produktif, contoh: hewan yang sudah Tua. Untuk mendukung pengembangbiakan Satwa buru, tentunya dibutuhkan lahan untuk satwa berkembangbiak. Salah satu satwa yang sedang dikembangbiakan di TBMK adalah Rusa. Jumlah Rusa di TBMK ada sekitar 25-35 ekor, semoga bisa terus bertambah. Selain itu Program lain yang ada di TBMK adalah Wali Pohon. Program wali pohon adalah program adopsi Pohon untuk penanaman di area TBMK. Dengan biaya adopsi sebesar 50rb/pohon. Penjelasan lebih lengkap mengenai wali pohon bisa cek disini http://walipohon.tbmk.org/site/ .
Narasumber ke dua, kang Galih dari Komunitas 1000 Kebun. Obrolan dibuka dengan perkenalan mengenai komunitas 1000 kebun. Tujuan 1000 kebun untuk berbagi tentang keilmuan Urban Farming Organik. Kegiatan-kegiatan komunitas 1000 kebun, ghatering, sharing, workshop dan pasar sehat. Kang Galih menjelaskan mengenai konsep Urban Farming Organik, bahwa semua elemen yang terlibat dalam Urban Farming harus tidak mengandung bahan-bahan berbahaya atau Kimia. Urban Farming Organik mengedepankan perbaikan ekosistem, bahwa tumbuhan yang kita tanam adalah bagian dari rantai makanan sebuah ekosistem. Untuk mengurangi hama tumbuhan, menanam tumbuhan yang mengundang predator hama adalah salah satu cara organik untuk mengurangi hama tanpa pestisida. Memang tidak secara instan akan hilang hama tersebut.
Perkebunan Organik memiliki produktifitas yang meningkat, berbeda dengan Perkebunan Non Organik, memiliki produktifitas menurun. Karena media tanam, yaitu tanah, unsur hara dalam tanah akan membaik secara bertahap dalam Berkebun Organik. Karena pupuk yang digunakan untuk menyuburkan dan mengemburkan tanah menggunakan bahan-bahan organik, contoh: kotoran hewan, daun-daun kering, dan sisa makanan. Urban Farming Organik bisa memanfaatkan ruang-ruang kosong yang ada di rumah warga tropis. Media tanam cukup dengan campuran, sekam bakar, cacahan serabut kelapa dan Pupuk Kompos. Untuk wadah media tanam, bisa menggunakan botol-botol bekas dan gelas-gelas air mineral. Untuk benih calon bibit bisa didapatkan di toko-toko perkebunan atau bisa saling barter dengan komunitas 1000 kebun. Untuk warga tropis yang tertarik untuk bergabung, bisa melihat ke www.facebook.com/1000kebun .
Selanjutnya saat-saat yang ditunggu banyak orang, adalah berbagi doorprize dari Eigerindo Mpi dan Cozmeed. Terimakasih untuk EIGER dan COZMEED sudah mendukung kegiatan #NgobrolSore.
Semangat Berbagi! Semangat Berkreasi! Semangat Berkarya!
Sampai bertemu di #NgobrolSore bulan Desember, Warga Tropis!#eigeradventure #cozmeed #PustakaTropis #Wanadri
Sumber: Tim Pustaka Tropis Wanadri

















