Marak Perburuan, Harimau Sumatera Masih tak Aman

Petugas Ditreskrimsus Polda Sumbar memperlihatkan kulit harimau sumatera yang diamankan di Mapolda Sumatera Barat di Padang, Selasa (23/4/2019). Polda Sumbar mengamankan dua pelaku serta sejumlah bagian tubuh satwa dilindungi yang diperdagangkan di Bukittinggi. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp.)*

Padang – Harimau sumatera masih dalam kondisi tak aman meski di alam liar. Penyebab utamanya adalah maraknya perburuan terhadap satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae tersebut untuk diniagakan di pasar gelap.

Demikian disampaikan Koordinator Pengendalian Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat Rusdyan Ritonga. Padahal, kata dia, status harimau sumatera saat ini terancam punah.

“Harimau sumatera ini tidak aman di alam dengan terjadinya perburuan-perburuan ini. Berdasarkan data yang kita punya, penyebab paling besar kepunahan harimau adalah perdagangan,” kata Rusdiyan di Mapolda Sumatera Barat, Selasa (23/4/2019), dikutip dari republika.co.id.

Jumat (19/4/2019) lalu, Subdit IV Ditreskrimsus Polda Sumbar telah menangkap dua orang tersangka yang menjual harimau sumatera di Bukittinggi. Barang buktinya adalah selembar kulit harimau sumatera yang masih basah.

Dari tersangka diamankan pula organ lainnya seperti 14 tulang punggung, 2 tulang tengkorak, dua tulang pinggul, 10 tulang bagian kaki, 2 tulang bahu, tumpukan tulang rusuk, 1 tengkorak tapir dan satu offset kulit harimau. Pihak Polda Sumbar memprediksi harimau sumatera tersebut baru dikuliti dalam satu bulan terakhir.

Rusdiyan mengatakan, sejak 2007 sedikitnya sudah ada tujuh kasus perburuan dan perdagangan harimau sumatera dan satwa liar lainnya yang diamankan kepolisian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dalam dua tahun terakhir, kata dia, sudah terjadi dua kasus.

Dikatakannya juga bahwa KLHK menyebutkan dari perdagangan satwa liar yang dilindungi telah melibatkan perputaran uang mencapai Rp 19 triliun. Perdagangan tersebut tercatat dilakukan lintas provinsi dan lintas negara. Kata Rusdiyan, hal inilah yang menjadi penyebab utama kepunahan harimau sumatera.

Selain perburuan manusia, populasi harimau sumatera juga terus berkurang karena kerusakan habitatnya. Yang kasatmata antara lain kerusakan habitat terjadi karena alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan.

Saat ini, populasi harimau sumatera berkisar di angka 600 ekor. Kata Rusdiyan, negara tidak akan membiarkannya punah karena akan mengancam kehidupan masyarakat. Harimau adalah puncak dari rantai makanan. Andai punah, maka hewan-hewan yang menjadi hama bagi pertanian akan bertambah banyak.

“Harimau kini menjadi perhatian dunia untuk dilindungi. Bila punah, maka bahaya ekologi sangat besar bagi negara karena tak ada lagi kontrol terhadap rantai makanan,” kata Rusdiyan. (iar)*