Bertarung Dengan Maut di Everest

Wawancara dengan Martin Rimbawan (W-0875 BW), oleh Tim LiTD

Peraih Nobel Sastra tahun 1954, Ernest Hemingway, mengatakan bahwa yang disebut olahraga sejatinya hanya pendakian gunung, selain adu banteng dan balapan mobil. Sedangkan yang lain-lain hanyalah permainan.

Alasannya, jika seorang penjaga gawang salah mengantisipasi bola, dia barangkali hanya akan kalah bertanding. Akan tetapi, seorang pendaki yang terpeleset ke crevasse di Everest kemungkinan besar akan berujung pada maut.

bertarung dengan maut di everest 1Martin Rimbawan yang baru beberapa hari lalu berhasil menclok di puncak Everest, memang selamat dari crevasse. Tapi jangan sekali-kali dibayangkan ia melenggang sembari siul-siul. Bak petualang lokal kawan saya, Bang Imung, yang melintasi Bukit Jonggol seraya senandung Balonku Ada Lima. Tidak begitu. Martin mengibarkan merah putih dan bendera WANADRI dalam kondisi setengah buta. Ia terkena “snow blind” yang ditengarai sebagai penyebab gugurnya Didiek Samsu di Aconcagua tahun 1992 dulu.

“Sampai di puncak sebelah mata saya sudah tidak bisa melihat. Dengan sebelah mata yang sudah samar-samar, saya keluarkan bendera dari backpack. Saya menunggu Fajri yang masih berjuang naik untuk bersama-sama mengibarkan bendera. Tapi saya sudah tidak kuat lagi. “Sherpa memintaku segera turun,” tutur Martin. Dalam perjalanan turun itulah Martin mengalami kebutaan total tanpa seorang pun bisa menolong. “Karena di ketinggian 8000 masing-masing sudah harus menyelamatkan diri sendiri,” lanjut Martin.

Sebelas jam lamanya ia menderita buta salju. Sempat berilusi melihat Yeti. Ia hanya bisa berteriak, “Help meeee..help meeee..!”  Sia-sia. “Aku terus merangkak menuruni tebing berkemiringan 70 derajat, dalam dingin suhu minus 32 derajat.”

Apa yang terpikir di saat kritis itu ?
“Aku hanya berpikir bagaimana bisa pulang dengan selamat. Aku tak berpikir bagaimana kalau aku mati ,” kenangnya. Martin mengajarkan kita untuk tetap berpikir positif sekalipun maut mengancam. Jangan pernah pesimis. Tetap tabah sampai akhir. Blemm..ia melahap telor dadar. Ia rindu masakan Padang. Dalam perjalanan ke Bandung, kami penuhi itu di kilometer 57.