Banyak pemimpin dunia punya sejarah hidup yang perih. Mao Zedong, pendiri Republik Rakyat Cina, masa kecilnya hidup dalam keluarga petani miskin. Di Rusia ada Stalin, anak tukang sepatu.
Pemimpin Iran Ahmadinejad adalah anak pandai besi. Presiden Polandia dan peraih Nobel Perdamaian 1983 Lech Walesa pernah jadi montir dan tukang listrik. Dan WANADRI punya Ojel, tukang martabak yang jadi Ketua Suku 2012-2014.
Ojel lahir dan tumbuh besar di Sukabumi. Tidak kampung-kampung amat. Tapi ketika masuk UNPAD ia sempat kebingungan. Nyaris mundur kuliah karena merasa minder bergaul dalam bahasa Indonesia. Pelan-pelan rasa percaya dirinya tumbuh setelah bergabung dalam organisasi kemahasiswaan. “Saya tertarik dengan kegiatan yang punya value,” ujarnya. Tak perlu lama-lama, ia didaulat sebagai Ketua Klub Aktivis Pegiat dan Pemerhati Alam (KAPPA) Fikom UNPAD periode 2006-2007.
Usai menuntaskan program D3 Fikom, ia terus melaju menyelesaikan S1. Bahkan pernah kuliah di STSI guna mendalami seni karawitan. Di sela kesibukannya di Bandung, Ojel menyempatkan diri membina anak-anak jalanan di kota kelahirannya untuk menerbitkan buletin. “Di manapun saya berada, saya selalu ingin menjadi sesuatu untuk memberikan kontribusi,” katanya. Dan itu ia lakukan sejak duduk di Sekolah Dasar, antara lain ia prakarsai pembuatan taman bacaan.
Tahun 2008 ia bergabung dengan WANADRI. Maret 2012 ketika kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang diingininya tak kunjung tiba, seorang teman mengajak berjualan martabak. Martabak? Why not? Maka tiap malam Ojel pun bergelut dengan adukan terigu, sampai kutukan W menimpa dirinya. Nopember 2012 tukang martabak yang juga mahasiswa S2 Industri Kreatif ITB ini, ditetapkan sebagai Ketua Suku WANADRI.
Wawancara dengan Ilham Fauzi alias Ojel Angkatan Bayu Windu oleh Tim LiTD

