Wawancara dengan Dr. Ir. AGUS PRABOWO, M.Eng. (Kang Uwo) Angkatan KABUT RIMBA, oleh Tim LiTD
Tercenung saya mendengar terminologi baru dari Kang Uwo. “Janji dan hakekat WANADRI membentuk anggotanya memiliki self-respect,” katanya berulang kali. Saya percaya temuan itu berdasar pengalamannya sebagai birokrat. Lulus Jurusan Arsitektur ITB, ia melamar kerja jadi PNS dengan permintaan ditempatkan di daerah tertinggal. Di Kendari sana, umur 25 tahun Kang Uwo sudah mengukir karya merancang Masjid Agung.
Filsuf Abraham Heschel merumuskan, self-respect adalah buah dari disiplin; rasa bermartabat yang tumbuh dengan kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap diri sendiri. Hmm…rupanya Kang Uwo ingin menjelaskan, bahwa karena self-respect yang tertanam dalam dirinya, ia selamat dari mainstream birokrat korup. Apalagi ia lama di Bappenas. Doktor jebolan Hokkaido University ini menempati karir puncak sebagai Direktur.
Self-respect juga yang memotivasi Dani Erwangga (Angkatan Pelopor) hengkang dari pegawai negeri karena ogah tanda-tangan kwitansi bodong. Dodi Hendarman (Angkatan Lawang Angin) berhenti sebagai pejabat pajak gara-gara menolak katabelece (almarhumah) ibu Negara. Bagus Satiardja (Angkatan Kabut Singgalang) meninggalkan kursi empuknya selaku Direktur Pertamina. Self-respect menyebabkan pejabat BPPN Harry Jadug (Angkatan Tapak Rimba) urung menikmati bahenolnya artis-artis yang dipersembahkan sebagai gratifikasi. Mendorong WANADRI berkata TIDAK ketika Menpora Abdul Gafur menawarkan pembiayaan PDW asal diberi kesempatan pidato.
Martabat diri adalah kekayaan hakiki. Bukan komoditi jual beli. Hanya orang-orang kuat, tak bisa dibeli, dan tahan banting dari bujuk rayu berhak mendapatkannya. Filsuf Cina yang juga pendiri Taoisme bilang, “Menguasai orang lain adalah kekuatan. Menguasai diri sendiri adalah kekuatan sejati.” -Lao Tzu.

