Tebing Tondoyan berada dalam zona karst Kutai Timur, Kalimantan Timur (zona karst terluas di Indonesia). Zona karst ini biasa disebut dengan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Batu/Ilas (tebing) Tondoyan merupakan salah satu puncakan tertinggi yang terdapat di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat Kalimantan Timur. Ketinggian tebing 1071 mdpl dengan jarak pemanjatan dari kaki tebing hingga puncak 771 meter.
Pencapaian lokasi Tebing Tondoyan ini cukup kompleks, karena membutuhkan mode transportasi darat, udara, sungai, dan ditambah dengan berjalan kaki menembus kelebatan hutan selama beberapa hari untuk mencapai bibir tebingnya.
Tujuan dilakukannya ekspedisi ini antara lain meliputi:
Pengamalan hakekat Wanadri Butir Dua; “Mengembara dan Menempuh Daerah-Daerah Untuk Kepentingan Tanah Air Dan Ilmu Pengetahuan”
Menumbuhkan semangat cinta tanah air dengan melihat langsung alam dan budaya Indonesia dari dekat, sekaligus menjalin persahabatan dan kepemudaan antar daerah dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.
Membuka ruang informasi serta keterbukaan akan keberadaan dan potensi kawasan karst Nusantara, dalam hal ini Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.
Menumbuhkan kesadaran akan kekayaan alam Indonesia sebagai negara kepulauan dengan bentukan geografisnya yang kompleks.
Menyadari arti penting kawasan karst bagi keberlangsungan ekologi di masa mendatang, sekaligus membuka wawasan masyarakat luas akan pemanfaatan kekayaan alam yang bersahabat, ramah lingkungan dan eksploitasi secara terkendali tanpa mengurangi nilai ekonomis.
Memberikan hasil akhir ekspedisi berupa pameran, buku, dan penyebaran informasi mengenai Tebing Tondoyan, baik dari segi kebudayaan, keindahan, maupun pengalaman selama berproses dalam ekspedisi ini.
Pelaksanaan Ekspedisi Tondoyang secara umum dibagi menjadi 3 tahapan, yakni Pra, Pelaksanaan, dan Paska Ekspedisi. Setiap tahapan didesain dengan memiliki tujuan dan fokus masing-masing.
1. Pra
Kegiatan ekspedisi ini dimulai pada September 2011, sejak pembentukan tim. Untuk menyamakan visi-misi, dan mempererat hubungan antar-anggota tim, maka dilakukanlah berbagai metode. Pada tahapan ini tim antara lain melakukan latihan fisik bersama, yang juga berguna untuk menambah kekuatan dan skill pemanjatan yang mendukung operasi lapangan. Kemudian tim juga melakukan pertemuan rutin setiap minggu untuk membahas rencana perjalanan. Untuk memperkuat kebersamaan, tim melakukan training camp, dimana satu tim tinggal bersama dalam satu tempat selama proses ekspedisi. Metode itu juga mempermudah tim dalam menyebarkan informasi.
Di samping itu, tim dana usaha dan publikasi juga sudah mulai bergerak untuk memenuhi segala kebutuhan tim ekspedisi.
2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dimulai dengan diberangkatkannya tim advance, pada tanggal 5 April 2012 dari Bandara Husein Sastranegara. Tim advance kemudian melakukan kegiatan perizinan, persiapan sebelum melakukan perjalanan menuju Tebing Tondoyan, dan menyiapkan kedatangan tim besar pada 12 April 2012.
Secara umum kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemanjatan dan pendataan. Keduanya dilakukan secara bersama-sama. Jumlah personil yang berangkat ke lapangan terdiri dari 12 orang Wanadri, 2 orang dari Kompas, dan 4 orang dari Kalimantan Timur.
Pada tanggal15 April 2012 memulai perjalanan dengan menggunakan perahu ketinting melawan arus ke arah hulu. Banyak terdapat kampar (batang-batang pohon) di beberapa titik sepanjang sungai. Kami harus menyingkirkannya terlebih dahulu supaya dapat melaluinya. Perjalanan sungai sampai titik drop memakan waktu tiga hari.
Selama pelaksanaan ekspedisi ini, Tim melibatkan keikutsetaan pemuda Kalimantan Timur, dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) dan Universitas Mulawarman. Tim kembali pulang ke Bandung pada tanggal 22 Mei 2012.
a. Pemanjatan
Pemanjatan Tebing Tondoyan dimulai pada 21 April 2012. Personil pemanjatan dibagi menjadi tiga tim, yang masing-masingnya terdiri dari tiga orang personil. Maka pemanjatan dilakukan bergilir setiap harinya.
Hingga ketinggian 197 meter, medan pemanjatan berupa batuan dengan minim cacat. Bentukan batu seperti itu cukup sulit dipanjat, hingga kami harus menggunakan teknik bor to bor untuk melaluinya. Belum lagi overhang, yang membutuhkan kekuatan dan ketelitian dalam menggenggam dan membuat patok dengan bor.
Dari ketinggian 197 meter hingga 365 meter, medan pemanjatan berupa batuan lepas, mulai banyak terdapat cacat batuan, dan kemiringan yang tidak terlalu ekstrim. Jarak tersebut dilalui dalam waktu empat hari.
Puncak Tebing Tondoyan akhirnya tercapai pada pukul 15.49 WITA, Kamis 3 Mei 2012. Total jarak pemanjatan dihitung dari kaki tebing, adalah 689 meter.
b. Pendataan
Tim pendataan berpisah dan memulai operasi pendataannya pada 15 April 2012. Salah satu tujuan tim pendataan adalah mendapatkan cerita dan mitos mengenai Tebing Tondoyan, yang didapatkan dari wawancara dengan beberapa tokoh daerah setempat. Seperti orang asli kutai Tepian Langsat, dan tetua dayak Basap. Dari mereka, kami mendapatkan cerita “Nintiran” dan “Tatal Ayus”.
Tim juga mengunjungi beberapa situs bersejarah yang terdapat dalam goa. Salah satunya adalah cap telapak tangan yang terdapat di Goa Saleh. Situs cap telapak tangan tersebut merupakan yang tertua di Asia Tenggara.
Selain Goa Salah, kami juga mengunjungi Goa Keboboh, Goa Sungai, Goa Tebo, dan Goa Wanadri. Setiap goa memiliki keindahannya masing-masing, baik dari panorama yang dapat dilihat dari mulut goa-nya, maupun bentukan-bentukan di dalam goa tersebut,
3. Paska
Kegiatan-kegiatan yang saat ini dilakukan paska ekspedisi berupa:
a. Pembuatan laporan kegiatan.
b. Publikasi dalam bentuk pameran.
c. Pembuatan buku mengenai Ekspedisi Tebing Tondoyan, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kontak
E-mail: tondoyanbigwall2012@gmail.com
Phone +6285274577705

