Tim Ekspedisi Tebing Kulat Lakukan Survei Tebing

Tim Ekspedisi Tebing Kulat yang terdiri dari dua orang yaitu Dirga Sumantri dan Rizandi Wirmandani melakukan survei Tebing Kulat yang berada di Kawasan Kars Sangkulirang Mangkalihat. Survei ini dilaksanakan selama 19 hari sejak tanggal 17 Februari Hingga 9 Maret 2016. Survei awal ini dilaksanakan untuk memastikan lokasi pemanjatan, koordinasi dengan instansi – instansi di lokasi dan area yang dilalui saat ekspedisi, dan sharing – sharing dengan para pegiat kars di Samarinda, Sangatta, dan Berau. Kawasan Kars Sangkulirang Mangkalihat yang secara adminstratif berada di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Tmur ini, di deliniasi sebagai kawasan lindung geologi yang sekarang masuk ke daftar tentatif nomor satu untuk dijadikan situs budaya warisan dunia (world heritage) di Indonesia.

Rencana survei berawal dari keraguan saat tim melakukan analisis pada data dan infomasi yang sudah dimiliki. Data dan informasi yang kami miliki sebelumnya yaitu peta wilayah dan foto video tebing yang diambil dari helikopter. Saat kami lihat foto dan video gugusan Gunung Kulat, kami langsung menyadari bahwa terdapat kemungkinan koordinat tebing yang kami miliki tidak sesuai dengan tebing yang kami maksud. Gugusan tebing di Gunung Kulat memiliki hamparan yang menghadap ke arah Selatan membentang lebih dari 10 kilometer. Ketidakpastian lokasi ini membuat kami mempertimbangkan survei langsung menuju titik pemanjatan tebing perlu dilakukan.

Sebelum keberangkatan untuk melakukan survei, terdapat beberapa hal yang kami persiapkan. Kami menyiapkan peralatan standar gunung hutan dan beberapa peralatan tambahan untuk survei seperti binokuler, klinometer, dan alat dokumentasi pengambilan gambar jarak jauh. Kami juga mulai menghubungi rekan dan instansi yang bisa membantu kami selama kegiatan di Kalimantan. Selain untuk melakukan survei lokasi, kami juga menyiapkan perlengkapan untuk audiensi di Kalimantan untuk permohonan dukungan dan koordinasi.

SurveI ini dilakukan untuk memastikan lokasi pemanjatan tebing. Kami juga mencari data informasi untuk bidang – bidang pendukung operasional seperti lokasi pemenuhan perbekalan, jalur medevac menuju rumah sakit terdekat, dan lainnya. Seluruh pergerakan ter-tracking oleh GPS agar kita dapat mengetahui lokasi dan jalur yang nanti akan digunakan saat ekspedisi. Pada dasarnya, survei merupakan salah satu bentuk untuk mengukur bahaya objektif yang dapat diantisipasi dengan mempersiapkan perencanaan yang baik.

 

Foto 1
Tebing Kulat dari Jarak 50 meter menuju bibir tebing

Rencana awal kami tim pengecekan lokasi tebing akan diakses dari Desa Merabu Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau. Saat kami melakukan analisis citra yang kami dapat dari rekan baik di Dinas Kehutan Provinsi Kaltim, terdapat jalur yang dapat diakses dari arah timur tepatnya dari Tabang Ulu, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan survei dari sisi Timur dan sisi Barat. Kami langsung mempersiapkan kebutuhan survei dari arah Timur mulai dari penambahan perbekalan, mencaritahu akses, mengurus perizinan, dan dukungan tenaga bantuan operasional di daerah sana.

 

Medan yang Berbeda dengan Gunung Hutan di Pulau Jawa

Gunung hutan di Kalimantan, tepatnya Kawasan Kars Sangkulirang Mangkalihat, memiliki kondisi yang berbeda di Pulau Jawa. Hutan yang kami lalui adalah pegunungan majemuk yang tidak memiliki puncak ekstrem terlalu banyak. Berjalan di kars yang tajam membuat sepatu yang kami bawa dari Bandung tidak dapat bertahan. Kami menggunakan sepatu yang terbuat dari karet atas rekomendasi dari warga sekitar. Berdasarkan pengalaman kami di medan gunung hutan Pulau Jawa kami, berjalan di punggungan yang tidak terlalu luas dan puncak – puncak gunung sekitarnya dapat kami gunakan untuk navigasi terbuka. Medan yang kami lalui di Kalimantan harus kami tempuh dengan navigasi tertutup. Beberapa medan Biasanya, masyarakat menggunakan ilas – ilas yang mejulang ke langit untuk melakukan orientasi saat berada di hutan.

Medan yang dilalui saat melakukan survei
Medan yang dilalui saat melakukan survei

Selain itu, kami berjalan dibawah terik matahari langsung dengan suhu sekitar mencapai 34 derajat celcius. Ditambah lagi tidak ada angin yang berhembus melewati tubuh kami saat perjalanan. Setiap kami berisitirahat, kami selalu membuka pakaian dan mengibaskannya ke badan. Sungai kecil yang kami temui adalah tempat terbaik untuk beristirahat. Membuka topi dan menjadikannya gayung air untuk disiram ke kepala merupakan cara terbaik untuk merilekskan badan yang sudah panas.

Survei yang kami lakukan dari arah timur berlangsung selama satu hari. Kami tempuh menggunakan mobil, motor, dan berjalan kaki. Saat kami bergerak mendekati lokasi tebing, lokasi yang kami plot pada peta ternyata sangat jauh bergeser ke arah Timur. Perkiraan kami saat di Bandung mengenai titik lokasi tebing yang belum pas ternyata benar. Kami hanya memerlukan waktu empat jam untuk berada di dua kilometer dari bibir tebing. Karena saat itu kami tidak mempersiapkan perlengkapan untuk penambahan hari, kami memutuskan untuk kembali dan melakukan pengecekan lokasi hingga bibir tebing dari arah Barat.

Minggu selanjutnya kami tiba di Desa Merabu. Dari menara pantauan di perkebunan kelapa sawit, kami dapat melihat bentangan ilas di Gunung Kulat dan lokasi tebing yang kami tuju terlihat sangat jauh. Perjalanan kami menuju bibir Tebing Kulat kami tempuh selama 3 hari 2 malam. Perjalanan yang cukup jauh jika dibandingkan dengan pencapaian dari arah timur. Pencapaian menuju bibir tebing lebih mudah diakses dari arah Timur.

Hasil plot jalur survei pada peta
Hasil plot jalur survei pada peta

 

Perubahan Rencana Operasi Total

Hal ini tentu saja akan merubah seluruh perencanaan ekspedisi yang sudah dibuat sebelumnya. Seluruh hasil survei akan digunakan sebagai rekomendasi untuk mempersiapakan rencana operasi ekspedisi. Perubahan menyeluruh mulai dari titik drop dan jarak yang berubah sangat memengaruhi waktu operasional dan kebutuhannya. Seluruh kebutuhan operasional seperti transportasi, peralatan, perbekalan, dan bidang – bidang lainnya akan menyesuaikan dengan rencana operasi terbaru. Rencana operasi yang diperbarui dengan data survei dapat meminimalisir kegagalan ekspedisi yang diakibatkan oleh faktor objek yang tidak terukur.

Ekspedisi menuju area ‘terra incognita’ harus dipersiapkan secara matang dengan mempertimbangan segala faktor. Peta merupakan salah satu informasi paling penting dalam mempersiapkan suatu perjalanan. Daerah yang kami akan jelajahi bukanlah daerah yang sudah terpetakan secara detil. Data survei dapat digunakan untuk menampalkan informasi yang belum diberikan pada peta. Sehingga, persiapan yang matang dengan data informasi yang A1 merupakan langkah awal untuk keberhasilan ekspedisi.

Sumber:
Dirga Imam Gozali Sumantri
AMW 2042 Topan Rimba
Ketua Ekspedisi Tebing Kulat 2016