Banyak Terumbu Karang Rusak, Laut Indonesia Mengkhawatirkan

Terumbu karang yang rusak akibat dua kapal kandas di Kepulauan Bangka Belitung. Dari hasil riset LIPI, kondisi kesehatan laut Indonesia cukup menghawatirkan. Terumbu karang banyak ditemukan dalam kondisi rusak baik sedang maupun berat. (Dok. KKP)*

Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negara yang punya wilayah laut luas dengan kekayaan biotanya yang beraneka ragam. Baru-baru ini kondisi kesehatan laut Indonesia diperiksa. Dari pemeriksaan itu didapati terumbu karang dalam kondisi rusak.

Meski kaya akan keanekaragaman hayati tetapi seiring dengan ekploitasi sumber daya kelautan serta tingginya tingkat pencemaran, maka dibutuhkan pemeriksaan untuk menentukan kondisi pasti ekosistem laut Indonesia saat ini.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku badan otoritas ilmiah mengadakan sejumlah riset untuk memeriksa kondisi biodiversitas laut Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal untuk konservasi jangka panjang. Salah satunya monitoring kondisi terumbu karang yang semestinya dilindungi dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Demikian juga dengan perdagangan biota laut secara ilegal.

“Saat ini, biota laut yang diperdagangkan secara komersial belum semuanya dilindungi,” ujar Dr. Dirhamsyah, peneliti dari Pusat Penelitian Oseanograf pada diskusi bertema “Riset untuk Optimalisasi Potensi Hayati & Ekonomi Laut Indonesia” di Jakarta, Senin (22/4/2019), dikutip dari kompas.com.

“Kita sedang mendorong agar hasil riset kami masuk ke Perda untuk dijadikan regulasi,” kata Dirhamsyah mengimbuhkan.

Seturut pada studi yang dilakukan LIPI, sekira 7,1 hektare terumbu karang sudah dimonitor tetapi hasilnya tidak menggembirakan. Hanya perairan di wilayah Papua dan Wakatobi saja yang dinilai kondisinya sehat. Sisanya tidak terlalu baik dengan tingkat kerusakan sedang hingga besar atau parah.

Direncanakan, akan dilakukan pula penentuan indeks kesehatan ekosistem pesisir untuk mangrove atau hutan bakau dan lamun. Selain itu, LIPI juga mengadakan riset dan budidaya biota laut seperti untuk 10 spesies hiu, ikan capungan, ikan napoleon, dan teripang. Saat ini, spesies-spesies tersebut berada dalam kondisi terancam akibat eksploitasi berlebihan.

Fokus penelitian lainnya adalah terkait sampah, plastik, dan bioremediasi. Seturut hasil riset yang dilakukan LIPI di 18 titik yang tersebar di Indonesia, ada sekira 468-594 ribu ton sampah plastik yang dihasilkan setiap tahunnya. Sebagian besar sampah tersebut terdampar dan mencemari kawasan pesisir pantai.

“Berdasarkan studi kami, 5 kota dengan sampah plastik pesisir terbesar adalah Padang, Makassar, Manado, Bitung, dan Ambon,” ujar Dirhamsyah memaparkan.

Dikatakannya, LIPI saat ini tengah memformulasikan perumusan kekayaan biodiversitas Indonesia dari segi materi. “Kita perlu tinjauan internasional untuk memeriksa metodologi secara saintifik mengenai data dan estimasinya,” ujarnya.

Hal tersebut, kata dia, diharapkan dapat menjadi rujukan bersama begi peneliti maupun pembuat kebijakan agar mengetahui secara pasti nilai material, ekonomi, dan jasa ekosistem yang dihasilkan biota tersebut. (iar)*