Budaya Mendongeng

Pemenang Lomba Menulis #NgobrolSore Pustaka Tropis Wanadri 30 Oktober 2015 Edisi Sumpah Pemuda

juara 2

Budaya Mendongeng

Oleh: Christopher Gio Sarsono

Mentari mulai turun, bulan dan bintang gemintang mulai bersiap untuk mewarnai malam hari. Desiran angin dingin menggigit tulang-tulangku. Di saat itu badanku yang lelah letih setelah hari yang panjang berdiri menunggu. Mataku terasa berat dan siap beristirahat, tetapi suara keras mesin dan klakson mobil di jalanan menarikku kembali bangun dan sadar. Walau lelah aku tidak sabar menunggu kisah-dongeng yang akan dibagikan di malam hari itu

Di pinggiran jalan aku menunggu kakakku (guru) yang akan pergi bersama ke jalan batik jonas. Kami pergi ke lokasi menggunakan angkot, dan jalan sampai tujuan. Disana kami menunggu perbincangan dan obrolan menarik di malam itu untuk memulai.

Sebelum itu perkenalkan, namaku Gio, pada saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 1, aku ingin berbagi sudut pandang, pendapat, dan kisah aku saat mendatangi kegiatan Ngobrol Sore di Pustaka Tropis, Wanadri bertema Sumpah Pemuda. Kegiatan tersebut sangat inspiratif dan banyak memberi hal dan dampak positif bagiku. Dalam kegiatan ini ada tiga pembicara yang memiliki kisah dan latar masing-masing, mereka berbagi dan bercerita kepada kami dongengan mereka (ada pula Kang Maulana yang berbagi sedikit mengenai film 40 Days In Europe).

Kang Irfan, adalah seorang pencinta alam yang menurutku memiliki kisah sangat inspiratif. Ia gigih, disiplin, dan sangat “kuat” dalam menjalani hidupnya. Bagiku ia seorang sosok yang sangat hebat, hanya dari ceritanya aku melihat bahwa ia telah melalui banyak hal, dan baik atau buruk ia terus bersyukur dan berterima kasih.

Mendengar ceritanya Kang Irfan aku cukup terkejut akan kegigihan dan semangat seorang manusia yang telah melalui banyak sekali rintangan dan hadangan dalam hidup, dan keluar dengan ramah, dan lebih bijak. Aku juga sangat takjub akan teman-teman, keluarga dan semua orang yang sangat setia dalam perjalanan menuju pemulihannya. Baik dan terutama buruk mereka selalu mendukung dan membantunya. Hal tersebut cukup membuatku takjub dan sangat-sangat terinspirasi untuk menjalani hidup dengan lebih positif, dan bersyukur.

Selanjutnya adalah Kak` Feri, seorang fotografer freelancer, yang beberapa kali fotonya telah terpilih menjadi cover National Geographic Indonesia. Dengan standar tersebut, langsung tahu bahwa ia bukan seorang fotografer sepele atau amatiran.

Saat gilirannya untuk berbagi Kak` Feri berbagi cerita mengenai buku terbarunya yang akan di keluarkan tidak lama lagi. Buku tersebut berisi mengenai lukisan-lukisan dan gambar-gambar dinding manusia purba di Indonesia. Ia berbagi pengalaman perjalanannya menuju ke lokasi-lokasi yang penuh dengan candaan dan kelakuan menggelikan, proses yang dilakukan di lokasi, dan juga mengenai persiapan dan pasca ekspedisinya.

Menurutku Kak`Feri ini sangat asyik untuk didengar dan ia tidak enggan untuk berbagi ceritanya  kepada siapapun. Menurutku hal yang menarik adalah harapannya dari membuat buku mengenai lukisan-lukisan prasejarah tersebut. Sebagai peminat fotografi aku mengerti keinginannya untuk berbagi dan bercerita melalui foto-foto tersebut, dan bahwa foto-foto memiliki kekuatan untuk mempengaruhi atau membuat orang peduli. Dalam kasus ini mengenai lukisan-lukisan cadas.

Setelah Kak`Feri selesai berbagi cerita dan kami diberi istirahat sebentar, giliran Kak`Icak untuk berbagi cerita. Kak`Icak Darmastyo adalah seorang fotografer juga yang telah membuat buku tentang perjalanan 181 harinya di berbagai kota dan negara di Asia. Kak`Icak bahkan sampai menjual motornya untuk mendanai perjalanan tersebut. Dengan tiga kamera disampingnya ia mengunjungi dan mendokumentasi berbagai tempat yang menarik dari berbagai negara.

Setelah menjalani perjalanan yang sangat besar tersebut Kak`Icak memproses foto, dan dengan bantuan teman-temannya ia memilih lima puluh satu foto hasil jepretannya. Selanjutnya foto-foto tersebut dikumpul, diberi tulisan, lalu dijadikan sebuah buku yang berjudul 51.

Kak` Icak menurutku adalah sesosok orang yang sangat senang bercanda dan juga sangat ramah. Ia berpikir bahwa walau ada banyak hasil bagus dari sekian banyak foto yang ia ambil, semuanya akan pada akhirnya hilang karena tidak terdokumentasi (hardcopy). Karena itu ia memilih untuk membuat karya hasil dari perjalanan tersebut, sebua buku foto berjudul 51.

Dari perbincangan sore, hal yang aku dapat adalah Kak`Icak sangat berani, nekad hampir, karena ia mau melakukan perjalanan bergitu jauh, begitu lama, sendirian, dengan perencanaan yang banyak di improvisasi. Tapi menurutku itu juga bisa menjadi hal yang positif, ia berani untuk melakukan apa yang ia inginkan, dan pada akhirnya menjadi sebuah buku yang bagiku sangat keren. Bagiku itu sangat positif dan patut untuk menjadi contoh bagi kita (termasuk aku) yang masih sering ragu dan khawatir saat akan melakukan sesuatu.

Dari ngobrol sore di Pustaka Tropis tersebut, yang juga menjadi “perayaan” kecil sumpah pemuda, aku mendapatkan banyak hasil inspiratif dan pengetahuan baru. Bagiku, seorang murid yang duduk di bangku kelas 10 (1 SMA), kegiatan ini sangat menarik dan inspiratif terutama saat topik-topik fotografi yang menjadi minat utamaku pada saat ini. Satu hal yang aku dapat dan menjadi benang merah dalam acara sore tersebut adalah…

Kami, sebagai bangsa Indonesia berbudaya lisan atau mendongeng. Turun menurun kami medongeng dan bercerita kisah dan pengetahuan. Walau bagus, kami berkumpul dan berbagi bersama-sama, dengan budaya mendongeng perlahan-lahan kisah dan bagian-bagian akan menghilang, berkurang, bahkan berubah. Maka untuk mendokumentasi, juga untuk terus berbagi dan bercerita budaya kita harus mulai dibiasakan untuk menjadi budaya menulis juga, selain budaya mendongeng. Seperti yang di disebutkan oleh ketiga orang yang berbagi cerita di malam itu, kita harus berkarya dan membuat hasil apa saja bentuknya dari buku sampai foto-foto. Sesuatu yang asli dan berbentuk agar kami selalu dikenang dan diingat dari karya kami.

Di malam Jumat itu aku sangat lelah dan siap beristirahat di rumahku. Tapi walaupun lelah aku sangat terinspirasi dan bersemangat dari mendengar kisah-kisah dan obrolan para teman-teman di Pustaka Tropis. Disana aku bersenang-senang, tertawa, dan bertemu banyak orang baru yang sangat menarik dan inspiratif. Aku berharap bahwa ke depan aku bisa mendapat kesempatan untuk berbagi dan mengispirasi orang-orang melalui karyaku, seperti Kang Irfan, Kak Feri, dan Kak Icak menginspirasikan aku di malam hari itu.