Pemenang Lomba Menulis #NgobrolSore Pustaka Tropis Wanadri 30 Oktober 2015 Edisi Sumpah Pemuda
Perjalanan Mencari Hakikat Gerakan Pemuda
Oleh Elvandry Ghiffary Rachman
Secangkir Teh Panas dan Sumpah Pemuda
Seperti biasa, suhu dingin Kota Bandung dan secangkir teh panas menemani saya di pagi hari, sambil membuka gawai hendak mengetahui kabar apa yang sedang terjadi di Indonesiaku saat ini.Oh ya! Saya ingat, ini 28 Oktober. Akhir bulan Oktober, di setiap tahun, topik ‘Sumpah Pemuda’ sudah pasti menjadi topik yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. Di berbagai media mulai menampilkan banyak hal terkait ‘perayaan’ Sumpah Pemuda tahun ini. Mulai dari tokoh-tokoh muda inspiratif dengan karyanya, sampai aktivitas turun ke jalan yang dilakukan para mahasiswa.
Selalu, teh panas ini membantu saya untuk berpikir dan merenung. Hari Sumpah Pemuda ini menjadi pengingat bagi kaum muda akan keberadaanya, termasuk diri saya. Munculah pertanyaan-pertanyaan di benak saya, “Apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemuda? Apa yang membedakan pemuda dengan kalangan masyarakat lainnya? Apa yang sudah kamu berikan untuk Indonesia? Apa yang sudah kamu berikan bagi orang-orang sekitarmu? Apa yang dimaksud gerakan pemuda?”
Pemuda dan Gerakan
Sudah menjadi wacana umum bahwa kata ‘Pemuda’ tidak bisa dipisahkan dengan kata ‘Gerakan’, sudah seperti halnya gula dan teh dalam segelas teh manis. Akan tetapi, efek dari ‘Pemuda bergerak’ ini mengakibatkan hampir semua aktivitas pemuda kini dianggap sebagai sebuah pergerakan. Demo adalah pergerakan. Pengmas adalah pergerakan. Mendaki gunung adalah pergerakan. Mengikuti seminar adalah pergerakan. Menulis adalah pergerakan. Membuat konser musik adalah pergerakan. Ujian semester adalah pergerakan. Bermain gamedi warnet adalah pergerakan.
Hingga akhirnya, kata pergerakan ini mengalami perluasan makna sehingga “apapun yang dilakukan pemuda” adalah pergerakan dan akhirnya kata ini tidak memiliki makna apapun karena saat ini apapun dapat disebut gerakan. Gerakan seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh pemuda?
#NgobrolSore Edisi Sumpah Pemuda ‘Buku, Dedikasi dan Inspirasi’
Disaat saya terus menggeser laman beranda facebook yang berisi ‘Sumpah Pemuda’ itu, tak sengaja saya melihat postingan Pustaka Tropis Wanadri tentang agenda bulanan mereka bertajuk Ngobrol Sore. Ngobrol sore kali ini mengangkat tema Sumpah Pemuda. Tidak perlu berpikir panjang, agenda ngobrol sore dimasukkan ke dalam list kegiatan saya. “Semoga saya menemukan jawaban disana”, dalam hati saya, sambil meminum tegukkan terakhir teh panas yang saya buat.
30 Oktober 2015, malam hari yang cerah menemani sekumpulan peserta Ngobrol Sore yang sudah siap menunggu acara dimulai. Satu per satu peserta yang sebagian besar adalah kaum muda, mulai menempati tempat duduk yang sudah disediakan panitia. Para narasumber tampak sudah hadir, sedang berbincang dengan para panitia sambil menunggu acara dimulai, menyiapkan presentasi dan lain sebagainya.
Narasumber-narasumber yang hebat memulai memaparkan presentasinya. Dimulai dari Kang Irfan Ramdhani, seorang penulis buku “Tabah Sampai Akhir”, yang berbagi cerita dan pengalaman dari masa lalunya, hingga sampai saat ini yang sudah menjadi terkenal bersama bukunya. Saya sangat menyesal karena saya belum sempat membaca buku beliau. Tapi dari paparan beliau, buku ini mengisahkan cerita dan pengalaman pribadi Kang Irfan mengenai kehidupannya di dunia Pecinta Alam, dan kehidupan sesungguhnya dimulai sejak tragedi kecelakaan yang dialaminya yang mengakibatkan beliau tidak mampu berjalan seperti sedia kala. Segala ujian dan perjuangannya sejak saat itu, semua dicurahkan ke dalam bentuk tulisan hingga menghasilkan sebuah buku yang sangat menginspirasi banyak orang. Saya mendapatkan pelajaran berharga, bahwa berkarya menjadi sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang pemuda dalam kondisi apapun. Keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk terus berkarya. Kita patut bersyukur atas segala yang Tuhan berikan kepada kita, dan berkarya demi bermanfaat bagi orang lain di sekitar kita adalah suatu bentuk nyata dari rasa syukur kita.
Tak terasa waktu berlalu, Kang Irfan mengakhiri sesinya. Peserta yang datang semakin banyak sehingga para panitia semakin sibuk untuk menyiapkan tambahan kursi pengunjung. Narasumber kedua tidak kalah hebatnya, yakni Kang Feri Latief, seorang Fotografer National Geographic. Kali ini, Kang Feri berbagi cerita dan pengalamannya di sebuah “perjalanan eksplorasi harta karun Indonesia”. Di Indonesia yang sangat kaya akan keindahan alamnya, ragam akan adat dan budayanya, dan penuh dengan sejarah bermakna, ternyata masih banyak yang belum khalayak tahu kekayaan Indonesia yang belum ter-eksplorasi. Hal ini yang Kang Feri lakukan bersama dengan rekan-rekan tim perjalanannya, yakni mengeksplorasi kekayaan yang belum umum diketahui banyak orang. Kekayaan Indonesia disini yaitu mengenai situs-situs bersejarah purbakala yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Gua-gua purba yang didalamnya penuh keindahan lukisan-lukisan yang dibuat oleh manusia purba ribuan tahun lampau, menjadi santapan lezat kamera milik Kang Feri. Satu persatu hasil jepretan Kang Feri membuat semua peserta takjub akan keindahannya, termasuk saya. Saya takjub melihat lukisan-lukisan yang dibuat oleh manusia purba yang sarat makna, seperti gambar tangan-tangan, hewan buruan mereka seperti anoa, ikan, dan lain sebagainya. Saya juga sangat kagum dengan kehebatan Kang Feri dalam teknik dan seni fotografinya, sehingga pesan yang disampaikan lewat foto tersebut sampai kepada orang yang melihatnya. Lewat fotonya, Kang Feri berpesan bahwa Indonesia telah dianugerahi Tuhan kekayaan dan keindahan alam yang sangat banyak, dan kita sebagai warga negaranya sudah seharusnya untuk terus berusaha menjaga dan melestarikan hal tersebut. Foto-foto Kang Feri akan dijadikan sebuah buku nantinya, dan harapannya buku ini akan terus menginspirasi banyak orang yang membacanya, serta menurunkan nilai-nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Malam semakin larut. Dinginnya angin malam tak menyurutkan semangat para peserta untuk melanjutkan materi selanjutnya. Narasumber ketiga yaitu Kang Icak Darmastyo. Dalam kesempatan kali ini beliau berbagi kisah dan pengalamannya ketika berpetualang ke berbagai negara di dunia. Sama halnya dengan Kang Feri, Kang Icakjuga bercerita mengenai pengalamannya lewat foto-fotonya. Satu persatu foto di berbagai negara diceritakannya. Banyak fakta-fakta menarik yang belum semua orang mengetahuinya diungkapkan oleh Kang Icaklewat hasil jepretannya. Semua foto dari perjalanannya yang memakan 181 hari itu, dirangkum kedalam sebuah buku berjudul 51, yang berisi 51 buah foto terpilih dari akun instagramnya. Lagi-lagi, sama halnya seperti kedua pemateri sebelumnya, buku menjadi tempat Kang Icakuntuk menempatkan karyanya. Karya besar yang akan menjadi inspirasi bagi pembacanya.
Gemuruh tepuk tangan peserta tanda berakhirnya Ngobrol Sore kali ini. Sungguh bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan para pemateri hebat yang sangat menginspirasi para pemuda yang hadir, terutama bagi saya sendiri.
Sebuah Refleksi Diri
Keesokan harinya, teh panas kembali menemani saya di pagi hari yang dingin. Saya kembali teringat dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran saya lusa lalu, pertanyaan-pertanyaan mengenai pemuda dan gerakan. Setelah mengikuti kegiatan Ngobrol Sore kemarin malam, saya kira saya telah menemukan jawabannya.
Bahwa sebenarnya, pemuda mempunyai banyak potensi yang harus dikembangkan. Pertama, intelektualitas. Pemuda mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan merumuskan permasalahan yang ada di sekitarnya, dan sudah menjadi konsekuensi bahwa pemudalah yang seharusnya memulai untuk menggerakkan solusi dari berbagai permasalahan tersebut. Kedua, energi. Energi yang dimiliki pemuda adalah yang paling kuat dibandingkan dengan lainnya. Energi ini yang memungkinkan seorang pemuda untuk terus bergerak, mengikuti apapun yang ia mau kemanapun. Energi ini pula yang akan melawan segala rintangan yang ia hadapi. Energi ini akan membentuk seorang pemuda yang selalu kuat dan pantang menyerah.
Kedua potensi tersebut harus diarahkan kepada hal-hal yang positif, membentuk suatu gerakan yang bermanfaat bagi dirinya, dan bagi lingkungan sekitarnya. Inilah yang saya sebut karya nyata. Karya yang dimaksud bisa beragam bentuknya, ada yang berkarya melalui tulisan-tulisan dan buku, ada yang berkarya melalui foto dan film, ada yang melalui karya seni, ada yang melalui lagu atau puisi, dan masih banyak lagi.
Hangat matahari pagi sudah mulai terasa. Aku harus bersiap untuk pergi kuliah. Tapi tunggu. Sebelum itu, saya robek kertas kosong di suatu halaman buku kuliah saya. Saya tuliskan semua gagasan-gagasan saya mengenai pemuda dan gerakan, kembali merapihkan konsep diri, dan mulai menyusun perencanaan “Apa yang akan saya lakukan kedepannya? Karya apa yang akan saya buat?” Mari kita sama-sama menjawabnya. Menyinergikan semua gerakan pemuda, untuk Indonesia yang lebih baik.
“Gerakan pemuda adalah gerakan berkarya, dan karya nyata adalah karya yang bermanfaat bagi orang lain, yang dapat menyelesaikan masalah di lingkungan sekitarnya.”


