[BANDUNG] Tiga pendaki perempuan yang tergabung dalam WISSEMU atau Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Universitas Katolik Parahyangan) akhirnya mencapai Uhuru, Gunung Kilimanjaro, puncak tertinggi di Benua Afrika, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2015 lalu.
Tim publikasi WISSEMU Alfons Yoshio mengabarkan ketiganya melakukan pendakian ke puncak selama tujuh jam lima menit. Mereka mulai pendakian pada pukul 00:25 waktu setempat dari Barafu Hut. “Tepat pukul 07:30 waktu setempat mereka mengibarkan bendera Merah Putih dan membunyikan angklung di puncak Gunung Kilimanjaro,” kata Alfons dalam surat elektroniknya yang SP terima, Senin (25/5).
Kondisi di puncak, sambung Alfons, saat itu sedikit berkabut sehingga tim hanya bertahan sekitar setengah jam di sana. Gunung Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di Benua Afrika, yang ada di Tanzania dan menjadi bagian dalam Taman Nasional Tanzania.
Gunung Kilimanjaro yang juga adalah gunung api memiliki tiga puncak yaitu Kibo, Mawenzi, dan Shira dengan Kibo sebagai puncak tertingginya. Gunung Kilimanjaro memiliki keunikan tersendiri karena memiliki lima zona iklim yang berbeda yaitu Bushland (tropis), Rain Forest (tropis), Heath (semi-alpine), Alpine Desert (iklim gurun), dan artic (salju) karena perbedaan iklim ini maka walaupun berada di daerah iklim tropis namun terdapat ice cap di puncaknya.
Tim mendaki melalui jalur Machame yang melewati empat camp yaitu Machame Camp, Shira Camp, Barranco Valley, Barafu Hut. Pendakian melalui jalur Machame juga mewajibkan mereka melewati The Great Barranco Wall, tanjakan menantang dengan kenaikan mencapai 257 m.
Tim yang terdiri dari tiga mahasiswi aktif Unpar, Fransiska Dmitri Inkiriwang, 21 tahun, Mathilda Dwi Lestari, 21 tahun, dan Dian Indah Carolina, 19 tahun sebelumnya sudah mencapai puncak Elbrus pada 15 Mei 2015 dan Puncak Carstensz Pyramid pada 13 Agustus 2014 dalam rangkaian ekspedisi menggapai tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.
Rektor Unpar Robertus Wahyudi Triweko menyampaikan rasa bangga dan syukurnya. “Proficiat. Salam untuk ketiga Srikandi Mahitala. Saya sangat bangga kalian bertiga berhasil menapakkan kaki dan menancapkan bendera Mahitala, bendera Unpar, dan Sang Merah Putih di Puncak Elbrus dan Puncak Kilimanjaro,” kata Triweko kepada Mahitala.
Nadine Gabrielle selaku Ketua Dewan Pengurus XXVII Mahitala mengungkapkan keberhasilan pendakian ke puncak ini merupakan kebanggaan bagi keluarga besar Mahitala. “Mohon doanya selalu agar tim bisa kembali dengan selamat ke Indonesia tanpa kurang apapun,” tambah Nadine.
Para pendaki itu akan kembali ke Arusha, Tanzania untuk melanjutkan perjalanan ke Indonesia pada tanggal 28 Mei 2015. Pendakian selanjutnya akan direncanakan tim di Bandung. Seluruh rangkaian pendakian tujuh puncak tertinggi di tujuh benua ini ditargetkan selesai pada bulan Juni tahun 2016 mendatang. [153/N-6]
Sumber http://sp.beritasatu.com/internasional/pendaki-perempuan-mahitala-bunyikan-angklung-di-puncak-tertinggi-afrika/87994

